Wondering®

Saya Minta AI Menulis Artikel yang Menyalahkan AI

Kemarin saya minta AI menulis artikel tentang konsumsi air yang dipakai AI.

Sepanjang prosesnya, saya sadar ada sesuatu yang aneh. Saya sedang memakai alat yang saya kritik untuk mengkritik alat itu sendiri. Setiap paragraf yang keluar, di suatu tempat ada server yang bekerja. Ada panas yang harus dibuang. Ada air yang menguap.

Artikelnya sendiri isinya bagus. Tentang data center. Tentang miliaran galon air. Tentang almond California dan 38.000 query. Semua fakta, semua sumber. Tapi setiap kali saya baca ulang, saya cuma bisa mikir satu hal: paragraf ini keluar dari mesin yang sama yang sedang dia salahkan.

Saya tidak tahu harus menyebutnya apa. Ironi? Munafik? Atau cuma kenyataan zaman ini yang memang begini bentuknya?

Mungkin yang terakhir.

Kita hidup di masa di mana hampir semua hal bisa dilakukan lewat alat yang efeknya tidak kita lihat. Menekan enter, sesuatu terjadi di suatu tempat, tidak ada yang kelihatan. Rasanya bersih. Rasanya ringan. Padahal tidak.

Saya bukan orang pertama yang ngeh soal ini. Banyak yang sudah menulis panjang tentang jejak lingkungan AI. Banyak yang sudah bikin hitung-hitungan. Tapi saya baru benar-benar merasakannya kemarin. Ketika saya sadar, artikel yang saya minta untuk menyadarkan orang lain, sebenarnya sedang menyadarkan saya duluan.

Ada satu kalimat di draft yang bikin saya berhenti. Sesuatu seperti, “Mungkin yang bisa saya lakukan cuma satu: sadar.” Waktu saya baca itu, saya mikir: siapa yang menulis ini? AI? Saya? Atau gabungan dari keduanya, dalam proses yang tidak punya nama jelas?

Saya tidak mau menjawabnya. Terlalu rumit. Dan mungkin jawabannya bukan di situ.

Yang jelas, saya tetap publish. Bukan karena saya pura-pura tidak tahu masalahnya. Tapi karena menyimpan draft ini di folder dan diam-diam tidak melakukan apa-apa terasa lebih buruk. Setidaknya, dengan ini, ada satu orang yang lebih sadar. Saya sendiri.

Mungkin begitu caranya hal-hal besar berubah. Bukan lewat revolusi. Bukan lewat gerakan. Tapi lewat satu orang yang sadar, satu demi satu, sampai cukup banyak untuk membuat sesuatu bergeser.

Atau mungkin tidak. Mungkin saya cuma cari pembenaran supaya tidak merasa bersalah. Saya tidak tahu. Mungkin keduanya benar sekaligus.

Yang saya tahu pasti, artikel ini sudah selesai. Dan di suatu tempat, ada air yang menguap untuk membuatnya. Termasuk paragraf ini. Termasuk kalimat yang sedang kamu baca.

Maaf.