Ketika Peliput Jadi Berita
Kadang satu tragedi tidak berhenti jadi satu tragedi.
Selasa sore, di Chatsworth, Los Angeles, sebuah SUV menabrak bus kota. Pengemudinya, menurut pihak berwenang, sedang dalam pengaruh narkoba dan melaju jauh di atas batas kecepatan. Dia menerobos lampu merah, masuk ke jalur berlawanan, dan menghantam bus yang sedang membawa penumpang pulang kerja.
Dua orang tewas di tempat. Gage Weida, 31 tahun, yang seharusnya merayakan ulang tahunnya yang ke-32 hari Sabtu itu bersama keluarga. Dan Daniel Castillo, 46 tahun, ayah dari empat anak, yang kata putrinya “selalu membawa tawa dan cahaya ke setiap ruangan yang dia masuki.”
Bus itu penuh dengan orang biasa. Orang yang baru pulang kerja, orang yang mau makan malam, orang yang mau bertemu keluarga. Tidak ada dari mereka yang mengira sore itu akan jadi sore terakhir.
Dua jam kemudian, tragedi kedua terjadi. Sebuah helikopter berita NBC4, yang sedang meliput kecelakaan bus dari udara, jatuh dan terbakar di sebuah tempat parkir. Jurnalis Eliana Moreno, pilot George Marciniw, dan seorang turis asal Guatemala, Edy Gutierrez Mejia, tewas.
Total lima nyawa habis dalam dua jam.
Saya membaca berita ini beberapa kali. Bukan karena detailnya, tapi karena satu kalimat dari kapten pemadam kebakaran, Branden Silverman. Dia bilang, “Biasanya media yang menyampaikan belasungkawa ke kami. Kali ini kebalikannya.”
Kalimat itu diam-diam menusuk. Karena biasanya yang meliput tragedi berdiri di luar. Kali ini, yang meliput tragedi itu sendiri menjadi tragedi.
Ada satu hal yang membuat berita ini sulit dilepaskan. Bukan soal kecelakaannya. Bukan soal jumlah korban. Tapi soal waktu.
Dua jam. Cukup untuk satu keluarga kehilangan ayah. Cukup untuk satu jurnalis kehilangan rekan kerja. Cukup untuk satu turis yang baru mendarat di LA untuk berhenti bernapas.
Kita sering berpikir bahwa hidup berjalan dalam garis lurus. Bangun, kerja, pulang, tidur. Besok ulangi lagi. Kita menyusun rencana untuk minggu depan, bulan depan, tahun depan. Kita bilang “nanti”, “suatu hari”, “setelah ini”.
Tapi kadang, di antara satu “nanti” dan “nanti” yang lain, ada sebuah SUV yang menerobos lampu merah. Ada sebuah helikopter yang kehilangan kendali. Ada sesuatu yang tidak pernah masuk dalam rencana siapa pun.
Saya tidak sedang mencoba menakut-nakuti. Saya cuma ingin jujur pada diri sendiri. Bahwa hidup ini tidak sepanjang yang saya kira. Dan tidak seaman yang saya rasa.
Yang paling menyedihkan dari berita semacam ini bukan angka korban. Bukan juga nama-nama yang tertera. Tapi bayangan mereka yang ditinggalkan.
Bayangan seorang anak yang tidak jadi merayakan ulang tahun ayahnya. Bayangan rekan-rekan kerja yang harus melaporkan kematian koleganya sendiri, sambil menahan tangis di depan kamera. Bayangan keluarga di Guatemala yang menunggu kabar dari seorang anak yang baru saja menginjakkan kaki di Amerika.
Mereka tidak muncul di berita. Mereka tidak diwawancarai. Tapi mereka yang paling lama menyimpan rasa sakit ini.
Saya tidak tahu harus berkata apa soal pengemudi SUV itu. Ada proses hukum yang sedang berjalan. Ada pengacara, ada dakwaan, ada sidang. Semua akan berjalan sesuai aturannya.
Yang saya tahu cuma satu. Tragedi ini disebut “bisa dicegah”. Lima orang mati dalam dua jam, dan kata “bisa dicegah” terasa seperti pukulan yang lebih keras dari kecelakaannya sendiri.
Malam itu, walikota Los Angeles, Karen Bass, mengunjungi lokasi kejadian. Dia bilang, “Ini hari yang sangat, sangat, sangat tragis di Los Angeles.”
Kata “sangat” yang diulang tiga kali. Mungkin tidak ada cara lain untuk mengatakannya.
Saya menutup tab berita ini, lalu membuka tab lain. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Ada hal-hal yang harus diurus. Hidup berjalan terus, apa pun yang terjadi di Chatsworth.
Tapi saya berhenti sebentar. Saya menatap nama-nama yang saya tulis di catatan. Gage. Daniel. Eliana. George. Edy.
Lima orang. Dua jam. Satu sore yang tidak pernah ada dalam rencana siapa pun.
Saya cuma berharap, malam ini, ketika saya bilang “nanti” ke seseorang, saya benar-benar bisa menepatinya.